“Ya Allah… saya pengen ke Bromo”. Terbesit dalam
hati ketika kali pertama saya melihat gunung Bromo yang diliput di salah satu stasiun
Televisi Swasta. Hap…ternyata Allah mendengar doaku. Singkat cerita saya ke Pare
untuk kursus bahasa Inggris. Setelah satu bulan saya belajar bahasa Inggris di
Pare, saya dan teman-teman liburan ke gunung Bromo.
Tepat
hari Sabtu setelah menghadiri Farewell Party bersama anak-anak camp
"Zeal", saya bergegas mengayuh sepeda menuju Elfast. Kami berangkat
sekitar jam 10 malam menggunakan Elf. Bismillah… semoga perjalanan
menuju
Bromo berjalan dengan lancar dan selamat sampai tujuan. Lamanya
perjalanan
sekitar 6 jam. Sempat merasa khawatir dan cemas karena rute perjalanan
yang
berkelok-kelok dan jurang yang curam ditambah gelapnya malam.
Hawa dingin sudah terasa
ketika berganti mobil pick up menuju
Pananjakan. Namun pemandangan malam yang berhiaskan bintang
berkelip-kelip cukup menghibur hati tatkala menahan rasa dingin. Mobil kami
harus berhenti sebelum sampai ke Pananjakan karena banyaknya kendaraan yang
menuju kesana baik mobil maupun motor. Mau tidak mau kami harus berjalan kaki menuju
Pananjakan. Suhu udara yang dingin menusuk sampai ke tulang, nafas yang
tersengal-sengal terasa sangat berat menapaki langkah demi langkah menuju
Pananjakan. Bagi yang tidak sanggup jalan kaki, bisa naik ojek. Namun
saya dan teman-teman tetap memilih jalan kaki untuk menikmati perjalanan.
Setibanya di Pananjakan
semua orang sudah berdesakan menempati posisi menghadap ke Timur untuk bisa
melihat sunrise. Selama satu jam kami menunggu terbitnya sang surya, namun kali
ini Kami kurang beruntung karena tebalnya kabut menutupi sinar sang mentari. Untuk
menghibur hati kami berpose-pose ria di kerumunan orang-orang.
Perjalanan belum
selesai karena masih ada tempat yang akan kami kunjungi, padang Teletubies dan
puncak kawah gunung Bromo. Dalam perjalanan hujan mengguyur
membasahi bumi pertiwi. Untuk berlindung dari derasnya hujan kami berlindung
menggunakan payung dan terpal. Karena hujan kelihatannya tak menunjukkan
tanda-tanda reda. Beberapa teman-teman memutuskan untuk tidak melanjutkan
perjalanan. Setelah beberapa menit berdiskusi, akhirnya rombongan dibagi
menjadi dua. Rombongan satu tetap melanjutkan perjalanan walaupun hujan, dan
rombongan yang satunya lagi pulang. Saya memutuskan untuk tetap melanjutkan
perjalanan karena saya berfikir ntah kapan lagi bisa ke Bromo. Dan berharap
hujan segera reda.
Jaket, sarung tangan,
dan cupluk yang kami pakai tidak berfungsi lagi menjadi penghangat tubuh karena
telah dibasahi oleh air hujan. Namun perlahan-lahan hujan mulai reda. Sedikit senyum
pun mulai mengembang. Perjalanan selanjutnya menapaki tangga menuju puncak
kawah gunung Bromo. Awalnya iseng untuk menghintung jumlah anak tangga sampai ke
puncak kawah, namun baru beberapa anak tangga yang di naiki konsentrasi menjadi
buyar, ntah sdh berapa langkah tangga yang sudah saya tapaki. Disela-sela menapaki
anak tangga kami tetap ngeksis. Hehehe…
Waaw… kebayang dong
senengnya ketika sampai di puncak kawah Bromo. Rasa dingin karena diguyur
hujan, rasa capek menapaki anak tangga menuju puncak, semuanya terbayar lunas. Mata
kami dimanjakan oleh indahnya pemandangan disekitar gunung Bromo, bukit-bukit
yang menghijau, padang pasir yang berwarna hitam, gunung Batok yang terlihat
megah, dan kerumunan orang-orang yang seperti semut.
Setelah puas dengan melihat
keindahan alam disekitar gunung Bromo, kami berangsung menuruni anak tangga dan
berkumpul kembali dengan teman-teman yang lain. Perjalanan menuruni anak tangga
terasa lebih cepat dan ringan karena tidak membutuhkan tenaga yang ekstra
seperti ketika menaiki anak tangga. Walaupun sempat ragu melangkah sampai ke puncak kawah gunung Bromo, namun pada akhirnya kita semua berhasil teman-teman.




0 komentar:
Posting Komentar