Minggu, 20 April 2014

CURUG CIBEUREUM

Diposting oleh Zakiah di 19.50 0 komentar
“Camping”, wah…. Kayaknya seru tuh. Seumur hidup saya belum pernah ngerasain yang namanya camping di alam terbuka. Bemodalkan nekat karena tidak ada pengalaman, akhirnya saya ikut rombongan comunitas Tanjakan Mamang ke air terjun Cibeureum. Anggotanya sekitar 33 orang dan ketua gengnya adalah teman satu mata kuliah. Untuk urusan tiket kereta, tenda, dll semuanya sudah diurus oleh ketua geng. 

Perjalanan dimulai dari stasiun Bogor menuju stasiun Sukabumi. Lamanya perjalanan sekitar 2 jam. Di sepanjang perjalanan di dalam kereta tampak keindahan alam yang luar biasa, gunung yang menjulang, sawah yang menghijau, sungai yang mengalir begitu derasnya, serta birunya langit yang menambah keindahan alam. 



Setibanya di stasiun Sukabumi, perjalanan dilanjutkan ke tujuan utama Curug Cibeureum. Curug Cibereum terdiri dari air terjun utama Curug Cibeureum, dan dua air terjun lain yang lebih kecil, Curug Cidendeng dan Curug Cikundul. Curug Cibeureum adalah air terjun terbesar dan paling pendek di kawasan ini, letaknya yang lebih terbuka dan dekat shelter sehingga lebih banyak dikerumuni. Nama Cibeureum berasal dari bahasa sunda yang berarti sungai merah, nama ini diambil dari nuansa merah dinding tebing yang terbentuk dari lumut merah yang tumbuh secara endemik di sana.
Di sebelah kanan Curug Cibeureum adalah Curug Cidendeng, ukurannya lebih tinggi dan langsing. Airnya melintasi tebing batu-batu trap dan jatuh menimpa lereng tebing yang berlumut. Sedangkan yang paling kanan adalah Curug Cikundul, letaknya yang sangat tinggi dan agak tersembunyi di ceruk dua tebing. Ketiga curug ini memiliki ketinggian antara 40-50 meter dan berada di ketinggian 1675 m dari permukaan laut (dpl). Curah hujan rata-rata di kawasan ini berkisar 3.000-4.200 mm per tahun. Bulan basah pada periode Oktober sampai Mei, pada saat musim barat laut dan rata-rata hujannya lebih dari 200 mm per bulan. Bulan Desember sampai Maret curah hujannya dapat mencapai lebih dari 400 mm per bulan.
 
Menurut klasifikasi iklim Scamidt dan Ferguson, tipe iklim di kawasan ini termasuk tipe iklim A. Rata-rata temperaturnya bervariasi antara 18 °C di Cibodas dan kurang dari 10 °C di puncak Pangrango. Dinamakan Cibeureum karena konon dulu air yang dialirkannya berwarna merah. Ci (Sunda, artinya air) dan beureum (Sunda, artinya merah). Warna merah ini berasal dari dinding tebing curug ditumbuhi lumut merah (Sphagnum gedeanum). Jika terkena sinar matahari, warna air pun terlihat berubah menjadi merah.
 

Lokasi Curug Cibeureum terletak di dalam kawasan Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP) Cibodas, tepatnya di Desa Sindang Laya, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Peta dan Koordinat GPS :6° 45' 17.11" S 106° 59' 7.52" E.
Akses perjalanan menuju Curug Cibeureum sekitar 2,6 km atau satu setengah jam dengan berjalan kaki dari gerbang masuk Taman Nasional. Sepanjang perjalanan menuju curug ini akan ditemui beberapa tempat yang menarik, juga beberapa tempat peristirahatan (pos) yang sengaja dibangun oleh pengelola. Sekitar 30 menit berjalan dari pintu masuk ditemui pos pertama. Di pos pertama ini terdapat pusat informasi, tempat istirahat, dan toilet. Jalan terjal dan berbatu tidak terasa berat karena pemandangan di sepanjang jalan membuat mata menjadi segar oleh hijaunya pohon-pohon yang menjulang tinggi. Udara nya sangat sejuk, suara gemericik air terdengar menenangkan hati, sesekali terdengar suara burung yang bersiul merdu. Suasanya yang sangat menyejukkan hati dan pikiran.
Rasa senang yang tak terkira ketika sampai di tujuan curug Cibeurum.  



INDAHNYA PULAU TIDUNG

Diposting oleh Zakiah di 18.34 0 komentar
Alhamdulillah, Allah SWT memberikan kesempatan lagi untuk melihat keindahan ciptaan Nya. Perjalanan kali ini adalah ke pulau Tidung untuk mengikuti Gathering Nasional SEFTer Rian`s Group tanggal 18-19 April 2014. Pulau Tidung merupakan tempat wisata yang cukup marak di kunjungi yang bisa disapa Tidung atau pulau Tidung, lokasinya berada di kawasan kepulaun seribu yang terbentang di ujung barat kepulauan seribu yang merupakan dua pulau yang berdampingan yang terdiri satu gugusan yaitu pulau Tidung besar dengan luas wilayah 5 hektare (terdapat pemukiman warga, beberapa penginapan untuk pengujung serta fasilitas umum seperti puskemas, kantor kelurahan, kantor kecamatan) dan pulai Tidung Kecil dengan 3 hektare (terdapat tempat pertanian pohon bakau, pohon kelapa, sukun area perkebunan). Pulau Tidung merupakan pulau paling besar dianatara pulau yang berada di kepulauan seribu.


   

Perjalanan ke Pulau Tidung dimulai dari Dramaga. Saya beserta keempat teman saya (Mas Topo, Tita, Norma, n Fira) berkumpul di pertigaan Bara. Sekitar pukul 04.30 kami berangkat menuju stasin Bogor. Perjalanan menuju stasiun Bogor tidak lebih dari 30 menit karena jalan raya belum dipadati oleh kendaraan. Kami membeli tiket dengan tujuan stasiun Kota, kami tidak perlu mengantri untuk membeli tiket karena waktu subuh belum banyak penumpang. Waktu tempuh dari stasiun Bogor ke stasiun Kota sekitar 1,5 jam. Perjalanan dari stasiun Kota menuju pelabuhan Muara Angke bisa ditempuh dengan menggunakan taksi, angkot, ojek dan bajaj. Karena buru-buru dan takut ketinggalan kapal, kami memilih ojek dengan ongkos 25.000 per orang. Di pelabuhan Muara Angke kami berkumpul dengan teman-teman lain yang tergabung kedalam SEFTer community. 
Pemberangkatan menuju pulau Tidung sekitar pukul 8 menggunakan kapal ferry tradisional dari Muara angke jakarta. Kapal ini terbuat dari kayu  yang dapat menampung penumpang 200 penumpang, jenis tempat duduknya adalah lesehan. Lama perjalanan sekitar 2 jam 30 menit untuk mencapai pulau Tidung. Perjalanan menuju Pulau Tidung sangat memanjakan mata. Laut yang luas membentang, birunya warna langit yang memberikan keteduhan dalam jiwa, gelombang yang tenang. Maha Besar Allah telah menciptakan sedemikian indahnya alam ini.



Suatu momen yang sangat dinantikan ketika tiba di pulau Tidung pastinya dengan mengarungi keindahan bawah laut baik snorkling atau diving. Kebanyakan dari pengunjung yang datang ke pulau Tidung lebih memilih kegiatan snorkling. Bagi yang tidak bisa berenang bisa melakukan kegiatan ini karena alat snorkling di lengkapi dengan pelampung. Jangan takut dan jangan panik jika anda ingin menikmati sensasi keindahan bawah laut, sangat di sayangkan jika teman-teman selama bersnorkling tidak membawa atau menyewa kamera dalam air karna teman-teman pasti ingin mengabadikan momen saat bersnorkling, bercanda dengan ikan serta terumbu karang yang indah tentunya.
siap-siap sebelum melakukan snorkling


Untuk menikmati keindahan alam di sekitar Pualu Tidung, kita bisa menyewa sepeda dengan biaya sewa sebesar Rp 15rb selama 2 hari 1 malam jika tidak bisa mengunakan sepeda teman-teman bisa juga mengunakan beca, bisanya harga untuk sekali jalan dengan mengunakan kendaraan roda tiga ini seharga Rp 15rb/ sekali jalan.
Tempat wisata di pulau Tidung yang wajib juga dikunjungi adalah jembatan Cinta sebuah jembatan panjang yang menghubungi antara 2 pulau  antara pulau tidung besar dan pulau tidung kecil, ditempat tersebut terdapat permainan air atau water sport seperti kano, banana boat, jetkey,dll. Teman-teman juga bisa bermain ke area pulau Tidung besar dimana terdapat beberapa tempat untuk bersantai dan bermain-main di bibir pantai sekaligus menikmati indahnya pantai barat di pulau Tidung. 


berpose di jembatan Cinta





WISATA KE GUNUNG BROMO

Diposting oleh Zakiah di 12.36 0 komentar
“Ya Allah… saya pengen ke Bromo”. Terbesit dalam hati ketika kali pertama saya melihat gunung Bromo yang diliput di salah satu stasiun Televisi Swasta. Hap…ternyata Allah mendengar doaku. Singkat cerita saya ke Pare untuk kursus bahasa Inggris. Setelah satu bulan saya belajar bahasa Inggris di Pare, saya dan teman-teman liburan ke gunung Bromo.
Tepat hari Sabtu setelah menghadiri Farewell Party bersama anak-anak camp "Zeal", saya bergegas mengayuh sepeda menuju Elfast. Kami berangkat sekitar jam 10 malam menggunakan Elf. Bismillah… semoga perjalanan menuju Bromo berjalan dengan lancar dan selamat sampai tujuan. Lamanya perjalanan sekitar 6 jam. Sempat merasa khawatir dan cemas karena rute perjalanan yang berkelok-kelok dan jurang yang curam ditambah gelapnya malam.
Hawa dingin sudah terasa ketika berganti mobil pick up menuju  Pananjakan. Namun pemandangan malam yang berhiaskan bintang berkelip-kelip cukup menghibur hati tatkala menahan rasa dingin. Mobil kami harus berhenti sebelum sampai ke Pananjakan karena banyaknya kendaraan yang menuju kesana baik mobil maupun motor. Mau tidak mau kami harus berjalan kaki menuju Pananjakan. Suhu udara yang dingin menusuk sampai ke tulang, nafas yang tersengal-sengal terasa sangat berat menapaki langkah demi langkah menuju Pananjakan. Bagi yang tidak sanggup jalan kaki, bisa naik ojek. Namun saya dan teman-teman tetap memilih jalan kaki untuk menikmati perjalanan.
Setibanya di Pananjakan semua orang sudah berdesakan menempati posisi menghadap ke Timur untuk bisa melihat sunrise. Selama satu jam kami menunggu terbitnya sang surya, namun kali ini Kami kurang beruntung karena tebalnya kabut menutupi sinar sang mentari. Untuk menghibur hati kami berpose-pose ria di kerumunan orang-orang.
                                   
Perjalanan belum selesai karena masih ada tempat yang akan kami kunjungi, padang Teletubies dan puncak kawah gunung Bromo. Dalam perjalanan hujan mengguyur membasahi bumi pertiwi. Untuk berlindung dari derasnya hujan kami berlindung menggunakan payung dan terpal. Karena hujan kelihatannya tak menunjukkan tanda-tanda reda. Beberapa teman-teman memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan. Setelah beberapa menit berdiskusi, akhirnya rombongan dibagi menjadi dua. Rombongan satu tetap melanjutkan perjalanan walaupun hujan, dan rombongan yang satunya lagi pulang. Saya memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan karena saya berfikir ntah kapan lagi bisa ke Bromo. Dan berharap hujan segera reda.
Jaket, sarung tangan, dan cupluk yang kami pakai tidak berfungsi lagi menjadi penghangat tubuh karena telah dibasahi oleh air hujan. Namun perlahan-lahan hujan mulai reda. Sedikit senyum pun mulai mengembang. Perjalanan selanjutnya menapaki tangga menuju puncak kawah gunung Bromo. Awalnya iseng untuk menghintung jumlah anak tangga sampai ke puncak kawah, namun baru beberapa anak tangga yang di naiki konsentrasi menjadi buyar, ntah sdh berapa langkah tangga yang sudah saya tapaki. Disela-sela menapaki anak tangga kami tetap ngeksis. Hehehe…


Waaw… kebayang dong senengnya ketika sampai di puncak kawah Bromo. Rasa dingin karena diguyur hujan, rasa capek menapaki anak tangga menuju puncak, semuanya terbayar lunas. Mata kami dimanjakan oleh indahnya pemandangan disekitar gunung Bromo, bukit-bukit yang menghijau, padang pasir yang berwarna hitam, gunung Batok yang terlihat megah, dan kerumunan orang-orang yang seperti semut.


Setelah puas dengan melihat keindahan alam disekitar gunung Bromo, kami berangsung menuruni anak tangga dan berkumpul kembali dengan teman-teman yang lain. Perjalanan menuruni anak tangga terasa lebih cepat dan ringan karena tidak membutuhkan tenaga yang ekstra seperti ketika menaiki anak tangga. Walaupun sempat ragu melangkah sampai ke puncak kawah gunung Bromo, namun pada akhirnya kita semua berhasil teman-teman.








 

JEJAK LANGKAH ZAKIAH Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by web hosting