“Camping”, wah…. Kayaknya seru tuh. Seumur
hidup saya belum pernah ngerasain yang namanya camping di alam terbuka. Bemodalkan
nekat karena tidak ada pengalaman, akhirnya saya ikut rombongan comunitas
Tanjakan Mamang ke air terjun Cibeureum. Anggotanya sekitar 33 orang dan ketua
gengnya adalah teman satu mata kuliah. Untuk urusan tiket kereta, tenda, dll
semuanya sudah diurus oleh ketua geng.
Perjalanan dimulai dari stasiun Bogor menuju
stasiun Sukabumi. Lamanya perjalanan sekitar 2 jam. Di sepanjang perjalanan di
dalam kereta tampak keindahan alam yang luar biasa, gunung yang menjulang, sawah
yang menghijau, sungai yang mengalir begitu derasnya, serta birunya langit yang
menambah keindahan alam.
Setibanya di stasiun Sukabumi, perjalanan
dilanjutkan ke tujuan utama Curug Cibeureum. Curug Cibereum terdiri dari air terjun utama Curug
Cibeureum, dan dua air terjun lain yang lebih kecil, Curug Cidendeng dan Curug
Cikundul. Curug Cibeureum adalah air terjun terbesar dan paling pendek di
kawasan ini, letaknya yang lebih terbuka dan dekat shelter sehingga lebih
banyak dikerumuni. Nama Cibeureum berasal dari bahasa sunda yang berarti sungai
merah, nama ini diambil dari nuansa merah dinding tebing yang terbentuk dari
lumut merah yang tumbuh secara endemik di sana.
Di
sebelah kanan Curug Cibeureum adalah Curug Cidendeng, ukurannya lebih tinggi
dan langsing. Airnya melintasi tebing batu-batu trap dan jatuh menimpa lereng
tebing yang berlumut. Sedangkan yang paling kanan adalah Curug Cikundul,
letaknya yang sangat tinggi dan agak tersembunyi di ceruk dua tebing. Ketiga
curug ini memiliki ketinggian antara 40-50 meter dan berada di ketinggian 1675
m dari permukaan laut (dpl). Curah hujan rata-rata di kawasan ini berkisar
3.000-4.200 mm per tahun. Bulan basah pada periode Oktober sampai Mei, pada
saat musim barat laut dan rata-rata hujannya lebih dari 200 mm per bulan. Bulan
Desember sampai Maret curah hujannya dapat mencapai lebih dari 400 mm per
bulan.
Menurut
klasifikasi iklim Scamidt dan Ferguson, tipe iklim di kawasan ini termasuk tipe
iklim A. Rata-rata temperaturnya bervariasi antara 18 °C di Cibodas dan
kurang dari 10 °C di puncak Pangrango. Dinamakan
Cibeureum karena konon dulu air yang dialirkannya berwarna merah. Ci (Sunda,
artinya air) dan beureum (Sunda, artinya merah). Warna merah ini berasal dari dinding
tebing curug ditumbuhi lumut merah (Sphagnum gedeanum). Jika terkena
sinar matahari, warna air pun terlihat berubah menjadi merah.
Lokasi Curug Cibeureum terletak di dalam kawasan Taman
Nasional Gede Pangrango (TNGP) Cibodas, tepatnya di Desa Sindang Laya,
Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Peta dan Koordinat GPS :6° 45'
17.11" S 106° 59' 7.52" E.
Akses perjalanan menuju Curug Cibeureum sekitar 2,6 km atau
satu setengah jam dengan berjalan kaki dari gerbang masuk Taman Nasional. Sepanjang
perjalanan menuju curug ini akan ditemui beberapa tempat yang menarik, juga
beberapa tempat peristirahatan (pos) yang sengaja dibangun oleh pengelola.
Sekitar 30 menit berjalan dari pintu masuk ditemui pos pertama. Di pos pertama
ini terdapat pusat informasi, tempat istirahat, dan toilet. Jalan terjal dan
berbatu tidak terasa berat karena pemandangan di sepanjang jalan membuat mata
menjadi segar oleh hijaunya pohon-pohon yang menjulang tinggi. Udara nya sangat
sejuk, suara gemericik air terdengar menenangkan hati, sesekali terdengar suara
burung yang bersiul merdu. Suasanya yang sangat menyejukkan hati dan pikiran.
Rasa senang yang tak terkira ketika sampai di tujuan curug Cibeurum.




0 komentar:
Posting Komentar